Yukk, Kenal Lebih Jauh Tentang Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam

  • Gaffar
  • Apr 25, 2017
masjid aceh

Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam terletak di ujung paling barat wilayah Indonesia dengan posisi geografis antara 2o-6o LU dan 95o-98o LS yang berbatasan dengan Selat Malaka di sebelah utara dan timur, Provinsi Sumatera Utara di sebelah selatan, serta Lautan Hindia di sebelah barat. Wilayahnya yang seluas 57.365,57 Km2 dengan ketinggian rata-rata 125 m di atas permukaan laut, dikelilingi oleh lautan dan memiliki 119 pulau, 35 gunung, 2 danau serta 75 sungai besar dan kecil. Secara administratif terbagi menjadi 4 kota dan 17 kabupaten yang meliputi 216 kecamatan serta 642 kemukiman dan 5.750 desa. Pada tahun 2002 jumlah penduduknya mencapai 4.166.040 jiwa dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 1,26% per tahun dan kepadatan 73 jiwa/Km2.

masjid aceh
masjid aceh

Nanggroe Aceh Darussalam memiliki iklim tropis dengan dua musim yaitu musim kemarau antara Maret-Agustus dan musim hujan antara September-Februari. Curah hujan berbeda antar daerah yang berkisar antara 1.000-3.000 mm/tahun di pantai timur dan 2.000-3.000 mm/ tahun di pantai barat. Temperatur rata-rata sepanjang tahun maksimum 30o-33o C dan minimum 23o-25o C dengan kelembaban relatif antara 65-75%. Jenis tanahnya berupa organosol, alluvial, podsolik merah kuning, litosol, regosol, podsolik coklat, podsolik kelabu, podsolik renzina, dan andosol dengan persebaran yang berbeda-beda di setiap kawasan. Akibat imbas dan krisis moneter yang berlanjut pada krisis ekonomi laju pertumbuhan ekonomi Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam pada tahun 2001 hanya mencapai 1,58%. Meskipun secara global belum pulih karena terhambatnya berbagai produksi dan pendistribusian barang-barang ke daerah, namum perekonomiannya telah mampu tumbuh menjadi sebesar 3,01% pada tahun 2002. Sebagai daerah yang termasuk dalam kawasan kerjasama segitiga pertumbuhan Indonesia, Malaysia dan Thailand (IMT-GT), sektor ekonominya mempunyai peluang cukup besar untuk tumbuh lebih signifikan pada tahun-tahun mendatang, utamanya dalam menghadapi pasar internasional.

Pendidikan

Gedung rektor Unsyiah
Dalam hal pendidikan, sebenarnya provinsi ini mendapatkan status Istimewa selain dari D.I. Yogyakarta. Namun perkembangan yang ada tidak menunjukkan kesesuaian antara status yang diberikan dengan kenyataannya. Pendidikan di Aceh dapat dikatakan terpuruk. Salah satu yang menyebabkannya adalah konflik yang berkepanjangan dan penganaktirian dari RI, dengan sekian ribu sekolah dan institusi pendidikan lainnya menjadi korban. Pada Ujian Akhir Nasional 2005 ada ribuan siswa yang tidak lulus dan terpaksa mengikuti ujian ulang.

Aceh juga memiliki sejumlah perguruan tinggi yaitu:

Negeri

  1. Universitas Syiah Kuala
  2. Universitas Islam Negeri Ar-Raniry
  3. Universitas Samudra Langsa
  4. Universitas Malikussaleh
  5. Politeknik Negeri Lhokseumawe
  6. Politeknik Aceh
  7. STAIN Malikussaleh
  8. IAIN Zawiyah Cot Kala Langsa

Swasta

  1. Universitas Abulyatama
  2. Universitas Almuslim
  3. Universitas Muhammadiyah Aceh
  4. Universitas Iskandar Muda
  5. Universitas Serambi Mekkah
  6. Universitas Jabal Ghafur

Tarian

Tari Saman dari Gayo Lues

Provinsi Aceh yang memiliki setidaknya 10 suku bangsa, memiliki kekayaan tari-tarian yang sangat banyak dan juga sangat mengagumkan. Beberapa tarian yang terkenal di tingkat nasional dan bahkan dunia merupakan tarian yang berasal dari Aceh, seperti Tari Rateb Meuseukat dan Tari Saman.

Tarian Suku Aceh

  1. Tari Laweut
  2. Tari Likok Pulo
  3. Tari Pho
  4. Tari Ranup lam Puan
  5. Tari Rapa’i Geleng
  6. Tari Rateb Meuseukat
  7. Tari Ratoh Duek
  8. Tari Seudati
  9. Tari Tarek Pukat
  10. Tarian Suku Gayo
  11. Tari Saman
  12. Tari Bines
  13. Tari Didong
  14. Tari Guel
  15. Tari Munalu
  16. Tari Turun Ku Aih Aunen
  17. Tarian Suku Alas
  18. Tari Mesekat
  19. Tarian Suku Melayu Tamiang
  20. Tari Ula-ula Lembing

Sumber daya alam

  1. Minyak bumi
  2. Gas alam
  3. Emas
  4. Hutan
  5. Kayu
  6. Kopi
  7. Ikan
  8. Rempah-rempah
  9. Kakao
  10. Pinang

 

Pahlawan Perempuan

  1. Cut Nyak Dhien
  2. Cut Nyak Meutia
  3. Laksamana Malahayati
  4. Pocut Baren
  5. Teungku Fakinah

Pahlawan Pria

  1. Sultan Iskandar Muda
  2. Teungku Chik Di Tiro
  3. Teuku Umar
  4. Panglima Polem
  5. Teuku Nyak Arif
  6. Mr. Teuku Muhammad Hasan

Tokoh asal Aceh

  1. Sultan Hadlirin
  2. Hamzah Fansuri
  3. Nuruddin ar-Raniri
  4. Syiah Kuala
  5. Syamsuddin al-Sumatrani
  6. Tun Sri Lanang
  7. Teungku Chik Pante Kulu
  8. Ismail al-Asyi
  9. Mohamad Kasim Arifin
  10. Teungku Hasan Muhammad di Tiro
  11. P. Ramlee
  12. Teungku Ahmad Dewi
  13. Teungku Daud Beureu’eh

Potensi dan Peluang Investasi

Sektor pertanian masih merupakan sektor dominan dalam memberikan kontribusi terhadap perekonomian di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Namun dengan berkembangnya industri dan pengolahan produk pertanian yang ada, diharapkan akan memberi dorongan kepada sektor lain agar lebih berkembang secara sinergi.Terdapat 6 sektor usaha yang potensial untuk dikembangkan, yaitu: pariwisata, pertanian, perkebunan, perikanan, pertambangan & energi, dan kehutanan.

Tempat wisata hits di aceh
Tempat wisata hits di aceh

Pariwisata

Dengan keberadaan sekitar 112 obyek wisata, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam memiliki keindahan alam yang menarik dan dapat dikembangkan, termasuk wisata budaya, wisata alam dan wisata kelautan. Pengembangan usaha pariwisata direkomendasikan untuk membangun beberapa kawasan usaha industri pariwisata (intregrated tourism resort), dengan prioritas utama di sekitar Banda Aceh, Pulau Weh (Sabang) dan Pulau Aceh. Prioritas selanjutnya adalah di Taman Nasional Gunung Lauser (Aceh Tenggara) serta di Pulau Simeuleue dan Pulau Banyak sebagai tempat kegiatan wisata kelautan. Sebagai penunjang investasi, di kawasan wisata terpadu telah tersedia lahan untuk bangunan hotel, lapangan golf, pusat perbelanjaan, pusat pagelaran kebudayaan dan fasilitas terkait lainnya.

  1. Kuburan Kerkhoff
  2. Masjid Raya Baiturrahman
  3. Museum Aceh
  4. Taman Putroe Phang
  5. Kuburan Kerkhoff
  6. Danau Laut Tawar
  7. Danau Aneuk Laot
  8. Pantai Lhok Nga
  9. Museum Tsunami Aceh
  10. Guha Tujoh di Laweueng

Makanan Khas

Aceh mempunyai aneka jenis makanan yang khas. Antara lain timphan, gulai bebek, kari kambing yang lezat, Gulai Pliek U dan meuseukat yang langka. Di samping itu emping melinjo asal kabupaten Pidie yang terkenal gurih, dodol Sabang yang dibuat dengan aneka rasa, ketan durian (boh drien ngon bu leukat), serta bolu manis asal Peukan Bada, Aceh Besar juga bisa jadi andalan bagi Aceh. Di Pidie Jaya terkenal dengan kue khas Meureudu yaitu adèe. Sedangkan di kabupaten Aceh Utara lazim kita temukan kuliner khas lainnya yaitu martabak durian yang lezat. Kuliner Bireuen yang paling terkenal adalah sate matang yang merupakan sate daging sapi atau kambing yang dibakar yang pada awalnya berasal dari kota Matang Glumpang Dua. Makanan khas Kota Langsa yang sangat terkenal hingga ke seluruh Indonesia adalah Sop Sumsum yaitu berupa sop tulang daging sapi yang berisi sumsum di dalam tulangnya dan tulang daging sapi tersebut telah dipotong untuk dapat dinikmati sumsumnya menggunakan sedotan atau menuangnya langsung ke atas piring. Sop Sumsum tulang daging sapi ini disajikan panas dengan potongan-potongan daging sapi yang diracik dengan sangat gurih dan lezat menggunakan racikan bumbu khas Aceh. Sementara kuliner khas Aceh yang juga sangat terkenal bahkan hingga ke mancanegara adalah Mie Aceh, sejenis mie kuning basah yang diracik dengan bumbu khas nan pedas.

simpang lima banda aceh
simpang lima banda aceh

Pertanian

Pengembangan tanaman pangan sebagai bagian dari usaha pertanian memiliki sasaran menambah pendapatan petani melalui intensifikasi, ekstensifikasi, penganekaragaman produksi dan usaha bisnis pertanian.

Komoditas unggulan tanaman pangan meliputi jagung, kentang, buah-buahan, kedelai dan melinjo. Produksi tanaman pangan dan hortikultura di Aceh tidak hanya sepenuhnya diserap oleh pasar lokal. Potensi kedelai yang terdapat di Kabupaten Pidie, Aceh Utara, Aceh Timur dan Aceh Tengah, telah dijual keluar daerah dalam bentuk bahan baku. Penggunaan kedelai telah bervariasi tidak hanya untuk pembuatan tahu, tempe, dan pakan ternak, tetapi juga telah digunakan untuk memproduksi susu, tepung, minyak dan sebagainya. Permintaan yang beraneka ragam ini memerlukan pembangunan industri pengolahan dari berbagai produk tanaman pangan menjadi produk kebutuhan sehari-hari.

Selain kedelai, besarnya produksi buah-buahan di Aceh Besar (mangga, rambutan, langsat, durian), Sabang (pisang, salak pondoh, mangga), dan Aceh Utara (pisang, pepaya, sirsak, jeruk), serta sayursayuran dan buah-buahan dari dataran tinggi di Aceh Tengah (kol, kentang, alpukat, markisa, jeruk, nenas), membuka peluang investasi bagi pembangunan industri pengolahan buah-buahan dan industri pengalengan yang menjanjikan keuntungan usaha.

museum tsunami aceh
museum tsunami aceh

Perkebunan

Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam memiliki usaha perkebunan besar yang tersebar di Aceh Timur, Aceh Singkil, Aceh Selatan dan Aceh Barat, dengan hasil produksi berupa minyak sawit mentah (CPO), karet, kelapa, kopi arabika dan komoditas lainnya. Setiap tahunnya dihasilkan sekitar 228.016 ton CPO, 73.566 ton inti sawit, 62.664 ton karet, 40.066 ton kopi biji dan 73.043 ton kelapa equivalent kopra. Dihasilkan juga komoditas lainnya, antara lain pala, gula merah, minyak nilam, pinang, lada, tebu, tembakau, kemiri dan lain sebagainya. Selama ini produk perkebunan tersebut dibawa ke luar daerah dan diekspor dalam bentuk bahan mentah. Kondisi ini membuka peluang bagi penanam modal untuk mendirikan berbagai pabrik pengolahan. Memperhatikan begitu luasnya bidang perkebunan yang telah ada dan dimungkinkan lagi adanya perluasan perkebunan baru, calon investor juga dapat menanamkan modal sendiri atau mengadakan perkongsian dengan perusahaan yang ada tetapi kekurangan modal untuk pengembangannya. Di Aceh Timur, Aceh Tamiang dan Aceh Utara memang telah padat dengan perkebunan yang telah eksis, namun masih dimungkinkan untuk sedikit perluasan dan penggantian tanaman (replanting) serta peningkatan kemampuan pabrik pengolahan, baik kelapa sawit maupun karet. Sementara areal yang masih luas untuk perkebunan baru terdapat di Aceh Barat, Aceh Selatan, Singkil dan Nagan Raya, yang memungkinkan calon investor mengadakan kerjasama dengan pemegang Hak Guna Usaha (HGU) yang telah ada tetapi belum sanggup menanam keseluruan areal yang dikonsesinya. Selain itu terbuka juga peluang untuk mendapatkan HGU dari areal yang sudah habis masa berlakunya.

Perikanan

Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam memiliki panjang pantai ±1.660 Km dengan luas laut mencapai 591.089 Km2 terdiri dari laut teritorial 56.563 Km2 dan laut Zona Ekonomi Eksklusif (ZEEI) seluas 534.520 Km2. Terdapat juga areal air payau yang cukup luas untuk budidaya di darat. Potensi di sektor kelautan dan perikanan ini membuka peluang untuk perikanan tangkap, seperti jenis ikan demersal, ikan pelagis, ikan karang, cumi-cumi dan lain-lain, serta budidaya kelautan seperti udang, kerapu dan lain-lain.

Peluang Investasi di Bidang Perikanan
• Industri perikanan terpadu, yang meliputi perikanan tangkap, pembuatan kapal, docking, processing dan pemasaran ikan
• Industri pengalengan ikan dan pabrik pengolahan ikan
• Pemeliharaan kerang mutiara
• Budidaya ikan air payau dengan menggunakan perairan pantai, baik di pantai timur maupun pantai barat Aceh
• Budidaya ikan dalam keramba jaring apung di Pulau Banyak, Pulau Simeuleue dan Pulau Aceh Pertambangan dan Energi

Rumah Adat Medan
Rumah Adat Medan

Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam memiliki potensi besar di bidang pertambangan sumber mineral dan sumber energi, dengan beberapa jenis bahan tambang antara lain berupa gas, minyak, magnesium, traas, dolomite, emas, tembaga, seng, batu-bara, pasir kuarsa, batu kapur, marmer, batu granit dan lain sebagainya. Pada saat ini, zone industri Lhokseumawe telah menjadi pusat produksi LNG dan LPG, setelah ditemukannya sumber gas di Arun pada tahun 1972. Meskipun baru terdapat 4 industri besar yaitu PT. Arun yang memprodukasi LNG dan LPG, PT. AAF dan PT. PIM yang memproduksi pupuk urea, serta PT. KKA yang memproduksi kertas, di zone industri ini merupakan peluang yang sangat terbuka bagi berbagai bidang usaha untk membangun industrinya sebagai industri lanjutan yang menggunakan gas alam sebagai bahan baku, seperti pabrik amoniak dan petrokimia. Selain itu, industri lanjutan dari pupuk urea dan amoniak juga dapat didirikan di sini.

Kehutanan

Sektor kehutanan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam memiliki potensi sangat besar, dengan hasil utama meliputi kayu meranti, semantok, damar laut, pinus merkusi, dan madu, serta produk hutan lainnya seperti rotan sega, rotan manau, rotan semambo, rotan ketanggi, rotan campuran, damar, jerenang, sarang burung, kulit kayu dan lain-lain. Meskipun hak pengelolaan hutan telah diberikan kepada swasta nasional, kesempatan investasi kepada pengusaha luar negeri selalu diharapkan untuk bekerja sama dengan pengusaha lokal, yaitu pemegang hak pengurusan hutan di bidang pengolahan kayu lapis, kayu olahan, industri moulding dan industri terkait lainnya.

Peternakan

Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam memiliki sejumlah padang rumput yang tersebar di Aceh Besar (14.450 Ha), Pidie (17.287 Ha), Aceh Utara (7.837 Ha), Aceh Timur (2.702 Ha), Aceh Tengah (34.088 Ha), Aceh Tenggara (30.373 Ha), Aceh Barat (33.042 Ha) dan Aceh Selatan (15.035 Ha). Areal tersebut sangat menunjang potensi investasi di bidang peternakan dalam skala besar. Untuk mendukung pertumbuhan sektor peternakan, setidaknya ada 4 kegiatan yang diharapkan, yaitu pemeliharaan ternak (breeding), pasokan makanan, pemeliharaan dan pengolahan hasil.

Sarana Dan Prasarana

Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) Bandar Aceh Darussalam KAPET Bandar Aceh Darussalam merupakan perubahan dari KAPET Sabang, yang terdiri dari: Banda Aceh yang meliputi seluruh kecamatan dalam Kota Banda Aceh, Kabupaten Aceh Besar yang meliputi Kecamatan Lhoknga, Darussalam, Kuta Baro, Peukan Bada, Seulimum dan Mesjid Raya, serta Kabupaten Pidie yang meliputi Kecamatan Batae, Oadang Tiji, Muara Tiga dab Kota Sigli. Karena letaknya yang sangat strategis yaitu di kawasan Asia Tenggara, maka KAPET tersebut akan sangat berperan dalam menghadapi kesibukan dan kepadatan lalu lintas laut di Selat Malaka. Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang Kawasan ini meliputi Kota Sabang (Pulau Weh, Klah, Rubiah, Seulako, Rondo) dan Kecamatan Pulau Aceh (Pulau Breuh, Nasi, Teunom) serta pulau-pulau kecil sekitarnya dengan luas wilayah mencapai 255,8 Km2. Pembangunan kawasan adalah langkah tepat dalam rangka memacu dan meningkatkan pembangunan serta memberi peluang bagi dunia usaha untuk berperan secara lebih luas.

Telekomunikasi

Pengembangan jasa prasarana telekomunikasi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dikelola oleh PT. Telkom dengan tingkat pelayanan telah mencapai 79.445 pelanggan dari 216 kecamatan yangmada. Terdapat 36 sentral telepon pada tahun 2002 dengan kapasitas 89.470 saluran, dimana 79.445 saluran telah digunakan secara intensif. PT. Telkom juga melayani penggunaan telepon seluler (Flexi dan Telkomsel).

Jalan Raya

Jaringan jalan raya diklasifikasikan dalam 3 kategori yaitu jalan negara, jalan provinsi, dan jalan kabupaten dengan total panjang mencapai 12.686,76 Km. Permukaan jalan terdiri dari aspal (4.926,5 Km), batu kerikil (3.842,06 Km), dan tanah (3.918,20 Km), yang sebagian besar mempunyai kondisi yang cukup baik. Pada saat ini terdapat beberapa ruas jalan baru yang sedang dibangun untuk membuka kawasan-kawasan terpencil.

Pelabuhan Udara

Di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam terdapat 9 pelabuhan udara, terdiri dari Lapangan Terbang Sultan Iskandar Muda di Banda Aceh dengan panjang landasan 2.500 m (Air Bus-A 330), Cut Nyak Dhien di Aceh Barat, Lasikin di Simeuleue, Rembele di Takengon dan Teuku Cut Ali di Aceh Selatan (C-212), Malikussaleh di Lhokseumawe dan Maimun Saleh di Sabang (F-28), Point A di Lhoksukon (Leuser), serta Kuala Batee di Aceh Barat Daya (C-200). Penerbangan tetap yang menghubungkan Banda Aceh-Medan-Jakarta dilayani oleh Garuda Indonesia. Jatayu Airlines melayani penerbangan regional antara Banda Aceh-Medan-Pulau Piang (Malaysia). Selain itu, direncanakan Adam Air akan melayani penerbangan regional yang menghubungkan Banda Aceh-Medan-Sinabang-Sabang-Meulaboh-Tapak Tuan-Takengon.

Pelabuhan Laut

Terdapat 9 pelabuhan laut, terdiri dari 4 di bagian barat yaitu Meulaboh (100 Dwt), Tapak Tuan (4.000 Dwt), Susoh Aceh Selatan (3.000 Dwt) dan Sinabang (3.000 Dwt) serta 5 di bagian timur yaitu Sabang (10.000 Dwt), Malahayati (5.000 Dwt), Lhokseumawe (10.000 Dwt), Kuala Langsa (5.000 Dwt) dan Ulee Lheu (500 Dwt) yang melayani pelayaran ferry dengan rute Banda Aceh-Sabang. Selain itu, terdapat juga 4 pelabuhan khusus yang dimiliki oleh perusahaan gas, minyak dan pupuk, yaitu AAF, EXXON MOBIL, ARUN LNG, PIM dan SAI.

Perbankan dan Akomodasi

Terdapat 229 kantor cabang bank yang meliputi bank negara dan bank milik swasta dengan jenis pelayanan bank umum dan bank devisa. Sementara fasilitas akomodasi meliputi 15 hotel yang terdiri dari bintang satu, bintang dua dan bintang tiga, dengan 673 kamar tidur. |Terdapat juga 124 losmen dengan 2.128 kamar dan 4.400 tempat tidur, serta 52 pondok wisata dengan 271 kamar dan 549 tempat tidur yang dapat menampung wisatawan domestik maupun asing.

Source : wikipedia

Peta Aceh

Related Post :