...

Semua Tentang Provinsi Sumatra Barat ada disini, Lengkap

  • Gaffar
  • Apr 30, 2017
Keindahan Alam Wisata Sumbar

Sumatera Barat merupakan wilayah yang terdapat di pantai barat Pulau Sumatera pada posisi 0054’ LU – 3030’ LS dan 98036’ – 101053’ BT, dengan luas wilayah sekitar 42.200 Km2. Dari luas tersebut, sekitar 23,200 Km2 (55%) di antaranya merupakan lahan yang dapat dibudidayakan, dimana 28,55% sudah dimanfaatkan untuk budidaya pertanian. Topografi wilayahnya berbukit, bergunung, lembah, sungai, danau, dan laut dengan garis pantai sekitar 2.420.387,3 Km, yang sebahagian besar berada di Kepulauan Mentawai. Secara administratif, Sumatera Barat terdiri dari 12 kabupaten dan 7 kota, dengan total penduduk tahun 2003 mencapai 4,4 juta jiwa dan kepadatan penduduk sebesar 104 jiwa/Km2. Sedangkan total angkatan kerjanya tercatat sebesar 1.106.642 jiwa, dimana 963.887 jiwa (87,1%) sudah bekerja dan 142.755 jiwa (12,9 %) mencari pekerjaan. Perekonomian Sumatera Barat didominasi oleh sektor pertanian, dengan kontribusi sekitar 22,88% dari PDRB, disusul sektor industri (15,67%), perdagangan dan hotel (16,67%), serta 8 sektor lainnya sebesar 55,22%. Pendapatan regional perkapita terus menunjukkan peningkatan sehingga menjadi sekitar Rp. 6,7 juta pada tahun 2003. Sementara laju pertumbuhan ekonomi mencapai 4,48%, lebih tinggi daripada pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya sebesar 4,1%. Kondisi ini juga didukung oleh investasi yang terus meningkat, terutama di sektor perkebunan dan pengolahan hasilnya. Investor asing yang banyak menanamkan modalnya pada tahun 2003 ini adalah Malaysia, dengan nilai investasi sebesar US$ 285 ribu untuk 10 buah proyek pada bidang industri, rumah sakit, perkebunan sawit dan pengolahannya, pengolahan kelapa dan air mineral.

Suasana Pergunungan di Sumatra Barat
Suasana Pergunungan di Sumatra Barat

Perikanan dan Pengolahan Hasilnya Luas laut Sumatera Barat sampai dengan batas ZEE sekitar 186.500 Km2, dengan potensi ikan laut sekitar 289.936 ton. Dari jumlah tersebut yang baru dapat dimanfaatkan adalah sekitar 98.431,2 atau sekitar 34% dari potensi yang tersedia, dengan kapal tangkap maksimum 30 GT. Komoditas potensial meliputi ikan pelagis besar, pelagis kecil, domersal, udang penaed, dan ikan karang, serta yang berkualitas ekspor antara lain: ikan tuna, teri, kerapu, kakap, ikan hias, lobster, teripang, kepiting bakau, udang dan rumput laut. Potensi ini tersebar pada 7 kabupaten/kota, yakni Pesisir Selatan, Padang, Padang Pariaman, Pariaman, Agam, Pasaman Barat dan Kepulauan Mentawai. Meski belum optimal, kegiatan perikanan di Sumatera Barat telah menghasilkan berbagai jenis ikan dengan jumlah produksi yang cukup besar. Hal ini membuka peluang adanya pembangunan industri pengalengan ikan dan industri ikan beku. Peluang ini didukung oleh meningkatnya konsumsi masyarakat serta terbukanya peluang pasar baik domestik maupun ekspor. Pemasaran dan Pengolahan Hasil Pertanian Pangan Hasil pertanian pangan yang potensial dan menguntungkan untuk dipasarkan dan diolah adalah tomat dan cabe untuk dijadikan saus yangbernilai ekonomis tinggi dan memenuhi pasar ekspor. Kedua jenis produksi ini saat ini sudah dikembangkan dengan menggunakan pupuk organik sehingga aman dikonsumsi karena tidak terkontaminasi oleh bahan kimia. Sementara potensi sayuran bernilai tinggi yang diproduksi di Sumatera Barat adalah broccoli dan kol. Pasar komoditi ini sudah menembus pasar luar Sumatera Barat dengan baik, seperti Batam, Pekanbaru, Bengkulu, Jamb, dan pasar Luar Negeri, seperti Singapura.

Sumatera Barat adalah rumah bagi etnis Minangkabau, walaupun wilayah adat Minangkabau sendiri lebih luas dari wilayah administratif Provinsi Sumatera Barat saat ini. Provinsi ini berpenduduk sebanyak 4.846.909 jiwa dengan mayoritas beragama Islam. Provinsi ini terdiri dari 12 kabupaten dan 7 kota dengan pembagian wilayah administratif sesudah kecamatan di seluruh kabupaten (kecuali kabupaten Kepulauan Mentawai) dinamakan sebagai nagari.

Sejarah Sumatra Barat

Nama Provinsi Sumatera Barat bermula pada zaman Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), di mana sebutan wilayah untuk kawasan pesisir barat Sumatera adalah Hoofdcomptoir van Sumatra’s westkust. Kemudian dengan semakin menguatnya pengaruh politik dan ekonomi VOC, sampai abad ke 18 wilayah administratif ini telah mencangkup kawasan pantai barat Sumatera mulai dari Barus sampai Inderapura.

Seiring dengan kejatuhan Kerajaan Pagaruyung, dan keterlibatan Belanda dalam Perang Padri, pemerintah Hindia Belanda mulai menjadikan kawasan pedalaman Minangkabau sebagai bagian dari Pax Nederlandica, kawasan yang berada dalam pengawasan Belanda, dan wilayah Minangkabau ini dibagi atas Residentie Padangsche Benedenlanden dan Residentie Padangsche Bovenlanden.

Jam Gadang Bukit Tinggi
Jam Gadang Bukit Tinggi

Selanjutnya dalam perkembangan administrasi pemerintahan kolonial Hindia Belanda, daerah ini tergabung dalam Gouvernement Sumatra’s Westkust, termasuk di dalamnya wilayah Residentie Bengkulu yang baru diserahkan Inggris kepada Belanda. Kemudian diperluas lagi dengan memasukkan Tapanuli dan Singkil. Namun pada tahun 1905, wilayah Tapanuli ditingkatkan statusnya menjadi Residentie Tapanuli, sedangkan wilayah Singkil diberikan kepada Residentie Atjeh. Kemudian pada tahun 1914, Gouvernement Sumatra’s Westkust, diturunkan statusnya menjadi Residentie Sumatra’s Westkust, dan menambahkan wilayah Kepulauan Mentawai di Samudera Hindia ke dalam Residentie Sumatra’s Westkust, serta pada tahun 1935 wilayah Kerinci juga digabungkan ke dalam Residentie Sumatra’s Westkust. Pasca pemecahan Gouvernement Sumatra’s Oostkust, wilayah Rokan Hulu dan Kuantan Singingi diberikan kepada Residentie Riouw, dan juga dibentuk Residentie Djambi pada periode yang hampir bersamaan.

Pada masa pendudukan tentara Jepang, Residentie Sumatra’s Westkust berubah nama menjadi Sumatora Nishi Kaigan Shu. Atas dasar geostrategis militer, daerah Kampar dikeluarkan dari Sumatora Nishi Kaigan Shu dan dimasukkan ke dalam wilayah Rhio Shu.

Pada awal kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, wilayah Sumatera Barat tergabung dalam provinsi Sumatera yang berpusat di Bukittinggi. Empat tahun kemudian, Provinsi Sumatera dipecah menjadi tiga provinsi, yakni Sumatera Utara, Sumatera Tengah, dan Sumatera Selatan. Sumatera Barat beserta Riau dan Jambi merupakan bagian dari keresidenan di dalam Provinsi Sumatera Tengah. Pada masa PRRI, berdasarkan Undang-undang darurat nomor 19 tahun 1957, Provinsi Sumatera Tengah dipecah lagi menjadi tiga provinsi yakni Provinsi Sumatera Barat, Provinsi Riau, dan Provinsi Jambi. Wilayah Kerinci yang sebelumnya tergabung dalam Kabupaten Pesisir Selatan Kerinci, digabungkan ke dalam Provinsi Jambi sebagai kabupaten tersendiri. Begitu pula wilayah Kampar, Rokan Hulu, dan Kuantan Singingi ditetapkan masuk ke dalam wilayah Provinsi Riau.

Selanjutnya ibu kota provinsi Sumatera Barat yang baru ini masih tetap di Bukittinggi. Kemudian berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Sumatera Barat No. 1/g/PD/1958, tanggal 29 Mei 1958 ibu kota provinsi dipindahkan ke Padang.

Pengolahan Hasil Perkebunan

Luas lahan perkebunan di Sumatera Barat tercatat sekitar 605.893 Ha, yang terdiri dari perkebunan rakyat (428.054 Ha) dan perkebunan besar swasta nasional (177.839 Ha). Komoditas potensial tanaman perkebunan antara lain adalah kelapa, kelapa sawit, kayu manis, dan gambir. Keempat komoditas tersebut memiliki peluang yang sangat prospektif bagi industri pengolahan dengan tujuan pemasaran domestik maupun ekspor.

Suasana Pasar di Sumatra Barat
Suasana Pasar di Sumatra Barat

Peternakan

Bila dilihat dari ketersediaan lahan sebagai tempat usaha peternakan, maka Sumatera Barat memiliki potensi sangat besar untuk pengembangan usaha peternakan, baik ternak besar, kecil maupun unggas. Daya tampung lahan untuk usaha ternak besar sekitar 3,25 juta ekor, sementara saat ini populasi ternak besar baru sekitar 901.639 ekor atau 27,7% dari potensi yang bisa diusahakan. Dari aspek pasarpun, berpeluang besar dikembangkan usaha peternakan, karena Sumatera Barat selama ini merupakan pemasok hasil peternakan bagi daerahprovinsi tetangga, seperti Riau, Jambi, Sumatera Utara bagian selatan serta peluang menerobos pasar internasional, terutama Singapura, Malaysia dan Brunei Darussalam. Disamping ketersediaan lahan dan pasar, peluang pengembangan ini didukung pula oleh perubahan pola konsumsi masyarakat sebagai akibat peningkatan kesejahteraan.

Industri Pendukung Usaha Peternakan

Industri pendukung usaha peternakan yang berpeluang dikembangkan di Sumatera Barat adalah: Pabrik pakan ternak; Pabrik pengolahan daging sapi, ayam dan susu; Pabrik pengolahan hasil sampingan ternak, seperti pabrik kompos, dan lain-lain. Peluang ini didukung oleh besarnya produksi peternakan di Sumatera Barat.

 

pulau sikuai sumatera barat
pulau sikuai sumatera barat

Kehutanan

Berdasarkan paduserasi tata guna hutan kesepakatan tahun 1999 sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 442/Kpts-II/1999 tanggal 15 Juni 1999, maka ± 2.600.286 Ha (61,48%) dari luas Sumatera Barat merupakan area hutan yang memiliki prospek untuk dikembangkan.

Sumberdaya Mineral

Sumatera Barat memiliki cukup banyak jenis sumberdaya mineral, berupa bahan galian sebanyak 34 jenis, yang tersebar di seluruh kabupaten/kota. Dari 34 jenis tersebut, batubara yang paling banyak dieksploitasi, terutama tambang luar, sementara deposit tambang dalam tersedia cukup banyak dan belum deksploitasi sampai saat ini. Cadangan batubara dalam ini tersebar pada 5 kabupaten, yakni: Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung, Solok, Pesisir Selatan, Tanah Datar, dan Limapuluh Kota. Selanjutnya, dari 34 jenis sumberdaya mineral tersebut, 12 di antaranya merupakan sumberdaya mineral unggulan, yang sebahagian besar belum dieksploitasi.

Perdagangan

Peluang investasi yang menguntungkan adalah pembangunan pasar swalayan dan mall. Saat ini, masyarakat Sumatera Barat, terutama yang berdomisili di wilayah perkotaan, memiliki kecenderungan yang tinggi untuk berbelanja di pasar swalayan dan mall.

Pariwisata

Sebagai daerah yang wilayah berbukit, bergunung, lembah, sungai, danau dan pantai, Sumatera Barat memiliki potensi wisata alam yang cukup besar, baik wisata daratan maupun wisata laut (marine tourism).

Sumatera Barat merupakan salah satu tujuan utama pariwisata di Indonesia. Fasilitas wisatanya yang cukup baik, serta sering diadakannya berbagai festival dan even internasional, menjadi pendorong datangnya wisatawan ke provinsi ini. Beberapa kegiatan internasional yang diselenggarakan untuk menunjang pariwisata Sumatera Barat adalah lomba balap sepeda Tour de Singkarak, even paralayang Event Fly for Fun in Lake Maninjau, serta kejuaraan selancar Mentawai International Pro Surf Competition

Sumatera Barat memiliki hampir semua jenis objek wisata alam seperti laut, pantai, danau, gunung, dan ngarai. Selain itu pariwisata Sumatera Barat juga banyak menjual budayanya yang khas, seperti Festival Tabuik, Festival Rendang, permainan kim, dan seni bertenun. Disamping wisata alam dan budaya, Sumatera Barat juga terkenal dengan wisata kulinernya.

Keindahan Alam Wisata Sumbar
Keindahan Alam Wisata Sumbar

Sumatera Barat memiliki akomodasi wisata, seperti hotel dan agen perjalanan yang cukup baik. Pada akhir tahun 2012, provinsi ini telah memiliki 221 hotel dengan jumlah kamar mencapai 5.835 unit. Namun hotel-hotel berbintang lima dan empat, hanya terdapat di Padang dan Bukittinggi. Sedangkan untuk agen perjalanan di bawah keanggotaan ASITA, Sumatera Barat sudah memiliki lebih dari 100 agen. Untuk melengkapi fasilitas penunjang pariwisata, pemerintah juga menyediakan kereta api wisata yang beroperasi pada waktu tertentu.

Untuk berbagai informasi serta literatur sejarah dan kebudayaan Minangkabau, wisatawan dapat memperolehnya di Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM) yang terletak di Perkampungan Minangkabau, Padang Panjang. Di PDIKM terdapat berbagai dokumentasi berupa foto mikrograf, surat kabar, pakaian tradisional, kaset rekaman lagu daerah, dokumentasi surat-surat kepemerintahan, dan alur sejarah masyarakat Minangkabau sejak abad ke-18 hingga tahun 1980-an.

  1. Istano Basa Pagaruyung Pagaruyung, Tanah Datar 
  2. Istano Silinduang Bulan Pagaruyung, Tanah Datar 
  3. Danau Singkarak Singkarak, Solok
  4. Danau Maninjau dan Puncak Lawang Embun Pagi Maninjau, Agam 
  5. Danau Di atas dan Danau Dibawah Alahan Panjang, Solok
  6. Danau Talang Talang, Solok 
  7. Ngarai Sianok, Bukittinggi 
  8. Jam Gadang, Bukittinggi 
  9. Benteng Fort de Kock, Bukittinggi 
  10. Lembah Anai, Padang Panjang 
  11. Minang Fantasi, Padang Panjang 
  12. Lembah Harau Harau, Lima Puluh Kota
  13. Panorama Tabek Patah Tabek Patah, Tanah Datar 
  14. Puncak Pato Lintau Buo Utara, Tanah Datar
  15. Jembatan akar Bayang, Pesisir Selatan 
  16. Puncak Langkisau, Painan 
  17. Museum Adityawarman, Padang 
  18. Pantai Air Manis, Padang 
  19. Pantai Caroline, Padang 
  20. Pantai Muaro, Padang 
  21. Pulau Sikuai, Padang
  22. Pantai Gandoriah, Pariaman 
  23. Pantai Arta Sungai Limau, Padang Pariaman
  24. Rimbo Panti Panti, Pasaman
  25. Museum Kereta Api Sawahlunto, Sawahlunto 
  26. Lubang Suro, Sawahlunto 
  27. Lubang Jepang, Bukittinggi 
  28. Taman Margasatwa Kinantan, Bukittinggi 
  29. Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau, Padang Panjang 
  30. Rumah Puisi Taufiq Ismail Aie Angek, Tanah Datar 
  31. Janjang Koto Gadang, Bukittinggi dan Agam 

Sarana dan Prasarana

Untuk mendukung dan memperlancar arus barang dan orang,serta pertumbuhan dan pengembangan perekonomian daerah, Sumatera Barat memiliki ruas jalan dengan kualitas rata-rata baik. Disamping itu, Sumatera Barat sudah memiliki internasional airport di Ketaping yang dapat didarati oleh pesawat berbadan lebar yang terletak sekitar 25 Km dari Padang (Ibukota Provinsi), serta pelabuhan laut yang merupakan pelabuhan alam yang dapat disinggahi oleh kapal berskala besar, yakni Pelabuhan Teluk Bayur, yang segera akan dikembangkan fasilitas dan kemampuannya. Di Sumatera Barat juga terdapat lokasi pengembangan industri, yakni Padang Industrial Park dengan luas area 616 Ha yang dikembangkan dengan metoda integrated development concept, dan telah memiliki sarana dan prasarana yang memadai, termasuk AMDAL, sehingga siap dimanfaatkan oleh investor manapun dan kapanpun juga.

minangkabau
minangkabau

 

H. ZAINAL BAKAR, SH.
The Governor of West Sumatra


H .ZAINAL BAKAR, SH. dilahirkan pada tanggal 6 Agustus 1940. Pendidikan dasar hingga menengah atas ditempuh di tanah kelahirannya, Pariaman. Setelah itu, beliau melanjutkan ke Fakultas Hukum Universitas Andalas Padang hingga meraih gelar sarjana pada tahun 1967. Selain menempuh pendidikan formal, beliau juga aktif mengikuti berbagai diklat dan kursus. Diklat yang pernah diikutinya antara lain Diklat Pengembangan Staf oleh LAN RI di Padang (1980), Diklat LATSAR Kehansipan Angkatan IV di Padang (1982), Sekolah Staf dan Pimpinan Administrasi Angkatan XI di Jakarta (1985), dan Diklat Teknis Fungsional Kursus Anggota Badan Pengawas Perusahaan Daerah Seluruh Indonesia (1990). Sedangkan kursus yang pernah diikutinya antara lain Senior Executive Management Program in Pittsburgh (1994), Kursus Dosen Kewiraan Nasional di Jakarta (1995), dan Kursus Lemhanas (1995). Selain itu, beliau juga melakukan beberapa kunjungan ke luar negeri untuk melakukan misi dagang, studi banding antara lain ke Saudi Arabia, Malaysia, Singapura, USA, Belanda, Jerman, Perancis, Belgia, Luxemburg dan Inggris. Sebagai Gubernur Sumatera Barat (2000 – sekarang), suami dari Hj. Zuarna Azzaino ini mempunyai kapasitas, kapabilitas, dan dedikasi yang tinggi untuk memajukan daerahnya.

Sebelum berkarir di Pemerintahan Provinsi Sumatera Barat, H. ZAINAL BAKAR, SH. memulai karirnya di Pemerintahan Kabupaten Agam. Di sini, jabatan yang pernah diembannya antara lain adalah Kepala Biro Pemerintahan Setwilda (1968), Pj. Sekretaris Daerah (1972), dan Sekwilda (1976). Sedangkan di Pemeritahan Provinsi Sumatera Barat, beberapa jabatan yang pernah dipercayakan kepadanya adalah Kepala Biro Humas Setwilda (1981), Kepala Biro Perekda Setwilda (1983), Kepala Biro Bangda Setwilda (1988), Asisten II Setwilda Bidang Ekbang/Kesra (1989), Sekretaris Wilayah/Daerah (1993), dan Wakil Gubernur (1998 – 2000). Di sela-sela waktu tersebut, beliau pernah menjadi Bupati Padang Pariaman (1990 – 1993).

Meski disibukkan dengan tugas sehari-hari sebagai gubernur, H. ZAINAL BAKAR, SH. berupaya untuk aktif di bidang organisasi politik dan sosial kemasyarakatan. Beberapa kiprah organisasi yang pernah diikutinya antara lain adalah aktif di Golkar, KORPRI, Alumni Universitas Andalas Padang, dan Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia. Dalam memimpin aparat pemerintahan dan masyarakat Sumatera Barat, H. ZAINAL BAKAR, SH. senantiasa berupaya untuk dapat berkarya dan bekerja seoptimal mungkin. Untuk memanfaatkan potensi sumber daya alam daerah secara optimal, beliau aktif mengikuti kegiatan promosi yang diharapkan mampu meningkatkan investasi. Keseriusannya dalam mengemban amanat rakyat telah membuahkan hasil dengan diterimanya berbagai tanda jasa dan penghargaan. Meski demikian hal ini tidak membuatnya berbangga diri. Bahkan beliau yang menerima gelar Dato’ Sri Utama dari Pemerintah Negeri Sembilan ini terpacu untuk mampu berbuat lebih banyak lagi bagi meningkatnya kesejahteraan masyarakat Sumatera Barat.

Peta Provinsi Sumatra Barat